oleh Noor Laila, Marsha Yustania, Tedi Sujarwono, Syahwandi, Ahmad Apandi, Robi, Nanda Ribi Kuswandani, Aisyah Alifiya Santoso, Annisa Juwaida Junita, Zulfa Zuliyanti Kusmawahyudi, Helyatul Hauriyah, Inelsa Rahmawati, Kezia, Harmika Purmelia, Tiara Bunga, Anggie, Angela Perina Juniar, Miska Apriyana, Icha Eka Oktavia Munthe, Tania Molut, Reva Elsha Margaretha, Kevin Febrian Imanuel, Yunanie, Agnes Monica Dwi Yanti, Bela Angeliana Putri Marbun, Ida Parida Saragih Sumbayak, Melinda, Yuarina Eka Friskilla, Natania Valensia, Emya Pehulisa Br Bangun, Apri Elsa Simamora, Rebecca Carolin Siregar, Marsella Sinaga, Muhammad Faizal Riza, Bambang Eko Irawan, Fernando Dwi Hartono, Gizka Ayu Wulandari, Gusti Al Furqan Rahmadi Matnoor, Muhammad Rayhan Aryani, Noviar Aflah, Abdi Johir · Sosial, Budaya & Politik [SOP]
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, bagaimana nasib warisan budaya takbenda yang sejatinya menjadi fondasi identitas kita? Kalimantan Tengah tidak hanya dikenal dengan bentang alamnya yang megah, melainkan juga tentang jiwa-jiwa kreatif yang menolak membiarkan tradisi leluhurnya lekang oleh waktu. Buku ini hadir sebagai sebuah dokumentasi mendalam, jembatan literasi, sekaligus wujud apresiasi nyata terhadap ragam seni kerajinan tangan tradisional yang lahir dari perpaduan keterampilan, kreativitas, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui catatan etnografi yang disusun secara runtut, pembaca akan diajak menjelajahi 12 bab kekayaan kriya lokal khas Kalimantan Tengah. Mulai dari yang bernilai sakral seperti senjata ikonik Mandau dan ekspresi magis dalam kreasi Babukung, yang menuntut ketekunan tinggi seperti Seni Ukir Kayu Dayak Ngaju milik para maestro serta jalinan rumit Anyaman Rotan, hingga keunikan eksotis Getah Nyatu, Gelang Simpai, Lawung dari Kayu Nyamu, Kriya Limbah Kayu, serta kilau modern Kerajinan Manik-manik yang kini bernilai ekonomi kreatif tinggi. Tidak sekadar memaparkan alat, bahan, dan rahasia teknik pembuatan manual yang rumit, buku ini secara emosional merekam potret nyata perjuangan, dedikasi, serta filosofi hidup para pengrajin lokal dalam mempertahankan eksistensi karya mereka di tengah keterbatasan bahan baku alam.
Kaya akan nilai budaya dan edukasi, buku yang diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Palangka Raya ini menjadi referensi esensial bagi pendidik, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum. Ini adalah sebuah ajakan hangat untuk tidak hanya mengagumi produk akhir yang estetik, tetapi juga merawat ""api"" tradisi agar tidak pernah menjadi fosil yang mati di dalam museum, melainkan warisan hidup yang terus mengalir dalam darah generasi masa depan.
Sebuah karya literasi yang mengingatkan kita bahwa selama kelembutan rasa mengalahkan ego, jiwa dan nyawa peradaban Kalimantan Tengah akan selalu hidup dalam keabadian urat kayu.
Buku ini tercatat resmi di sistem DPSBN Detak Pustaka.