Terverifikasi
Mendidik Manusia Merdeka (Humanisme Religius dalam Pemikiran Pendidikan Tan Malaka)
200-2026-00097-0
Alternatif ISBN

Mendidik Manusia Merdeka (Humanisme Religius dalam Pemikiran Pendidikan Tan Malaka)

oleh Saidina Ali · Sejarah & Filsafat [SJF]

Penerbit
Detak Pustaka
Tahun
2026
Halaman
123 hlm
Bahasa
Indonesia

Sinopsis

Anak surau yang ditembak mati oleh bangsanya sendiri. Pemikir pendidikan yang mendahului Paulo Freire setengah abad. Tokoh yang selama puluhan tahun namanya dilarang disebut.

Apa yang Anda pikirkan jika tahu kalimat ini ditulis oleh "musuh agama"versi Orde Baru? Sekolah yang baik ialah sekolah yang mendidik anak-anak menjadi orang yang baik budinya dan baik tingkah lakunya. Bukan sekolah yang cuma memberikan pengetahuan kosong belaka, tetapi sekolah yang menanamkan akhlak dan semangat di dalam jiwa muridnya.
Penulisnya bernama Tan Malaka. Selama puluhan tahun ia disebut komunis, subversif, ancaman. Tapi ada wajah lain yang luput dari sejarah—anak surau Minangkabau yang setiap subuh berjalan menuju masjid kampungnya di Pandam Gadang. Lelaki yang pernah berdiri di Moskow, di hadapan Kongres Komintern, dan membela Islam sebagai api pembebasan, bukan candu.
Buku ini ditulis untuk memperlihatkan wajah itu.
Setengah abad sebelum Paulo Freire menggemparkan dunia dengan Pedagogy of the Oppressed, Tan Malaka sudah mempraktikkannya di Semarang. Empat dekade sebelum teologi pembebasan lahir di Amerika Latin, ia sudah merumuskannya dari sudut pandang seorang Muslim. Dua puluh tahun sebelum proklamasi, ia sudah menulis seperti apa republik yang akan kita huni.
Tapi siapa yang mengingatnya?
Saidina Ali mengajak Anda menelusuri empat pilar pemikiran Tan Malaka yang selama ini tersembunyi di balik label politik yang menempel padanya: martabat akal, pembebasan struktural, penghargaan terhadap agama rakyat, dan solidaritas kerakyatan. Sang anak nagari dipertemukan dalam dialog lintas zaman dengan Freire, Gramsci, dan Ali Shariati—membuktikan satu hal yang mengusik: gagasan dari Suliki memiliki resonansi yang menggetarkan tradisi intelektual dunia, dan kita justru sibuk meminjam dari luar.
Buku ini bukan untuk Anda yang mencari kepastian. Buku ini untuk Anda yang masih berani bertanya:
Untuk siapa pendidikan ini?
Apakah agama yang kita ajarkan membuka akal, atau menutupnya?
Apakah kita sedang membentuk manusia yang merdeka—atau manusia yang terampil tapi tidak bebas?
Untuk para guru yang setiap pagi berdiri di depan kelas dengan keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah sesuatu, meskipun dunia tidak selalu membenarkan keyakinan itu. Untuk para pelajar yang menolak diam. Untuk siapa pun yang masih ingin tahu apa artinya benar-benar merdeka.
Terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk.
— Tan Malaka
Mantra hidupnya. Mungkin juga mantra kerja yang sedang Anda cari.
Baca ulang Tan Malaka. Bukan untuk membela. Bukan untuk menyerang. Untuk akhirnya, dengan jujur, mengenalnya.

🔒
Keaslian Terjamin

Buku ini tercatat resmi di sistem DPSBN Detak Pustaka.

0 scan
Buku Serupa

Baca juga dari kategori Sejarah & Filsafat [SJF]